Latar belakang judul artikel:
di suatu pagi yang cerah, salah seorang sahabat yang terkenal sangat absurd menulis sebuah status singkat dan mengundang tanya bagi orang iseng manapun seperti saya. Statusnya bertuliskan man jadda wajada. Ketika ditanya dengan semangat dia menjawab artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Kurang lebih pesan yang sama seperti yang ditulis Paulo Coelho dalam novelnya yang berjudul Alchemist, namun untuk status dari teman saya tersebut dalam versi Arab tentunya. Kemudian dengan semangat sang sahabat menuturkan dari mana dia memperoleh kata tersebut. Usut punya usut ternyata disadur dari salah satu national best seller novel yang berjudul Negeri 5 Menara. Sahabat dengan semangat yang belum memudar masih menuturkan sinopsis dari buku tersebut. Sinopsisnya kali ini tidak seabsurd yang biasa dia lakukan (Huehehe)..kurang lebih sang sahabat bercerita seperti ini: ada seorang anak kecil bernama Alif . Dia pintar dan tinggal di sebuah kampung di Sumatera Barat (sepintas saya meragukan, karena menilai ada unsur chauvinisme dalam tulisan berapi-api yang ditulis sang sahabat). Dia ingin meneruskan pendidikan setamat SMP ke sebuah SMA favorit di Padang. Namun, ibunya lebih menginginkan Alif pergi ke pesantren. Alasannya? (alasan yang dituturkan oleh sahabat inilah yang makin membuat saya tertarik) menurut beliau dewasa ini, pesantren hanyalah tempat buangan bagi murid SMP yang tidak lulus masuk SMA atau murid SMP yang kurang mampu membayar biaya masuk SMA. Kalau keadaan demikian berkelanjutan, bagaimana Islam bisa maju di tangan orang yang masuk ke pesantren karena alasan2 tersebut?
–
Biasanya, saya suka meragukan rekomendasi film atau buku dari sang sahabat yang terkenal absurd ini (walaupun ahirnya tetep aja saya cari), Tapi untuk yang satu ini, saya betul2 tertarik dengan alasan si Amak untuk meminta Alif pergi ke pesantren. Benar saja, saat saya membaca, tiap halaman rasanya menjadi bahan bakar harapan saya untuk lebih giat menggapai mimpi2 saya. Inti sari ceritanya mirip dengan Laskar Pelangi (karena A.Fuadi dalam kata pengantarnya juga menyebutkan Andrea sebagai inspirasinya). Namun secara alur cerita menurut saya lebih rapih, mungkin karena A.Fuadi ini sebelumnya bekerja sebagai wartawan Tempo dan VOA.
Menyadur dari kata-kata man jadda wajada, Allah itu betul2 Maha Mendengar. Barusan saya chat dengan sahabat saya yang sedang di luar negeri. Dahulu waktu kuliah dia sering berangan2 ingin keliling dunia, alhamdulillah sekarang sedikit demi sedikit negara2 asia dia kunjungi. Atau yang lebih ringan lagi angan2 saya memiliki starko alias starlet kotak (padahal ini angan2 TK) ahirnya terwujud setelah nikah
atau yang lebih berat lagi, saya pernah berangan2 ingin belajar bahasa Arab agar saat mengaji tidak cuma sekedar membaca tapi juga mengerti artinya dan juga agar bisa mengajar artian surat2 Qur’an langsung kepada anak2 saya, Alhamdulillah baru2 ini pengajian di sekitar rumah mulai membuka agenda baru pelajaran bedah Qur’an. Majelis 2 hari dalam seminggu ini isinya singkat, per pertemuan mengupas satu ayat. Tapi dalam satu ayat ini kita belajar untuk menghafal per katanya. Kemudian satu per satu peserta akan diuji untuk menghafalkan ayat tersebut. Atau angan2 saya untuk menjadi working-at-home mommy, alhamdulillah terwujud juga walaupun masi merayap
setelah baca buku ini makin semangat buat mengejar mimpi2 saya lainnya.
Sekian sedikit dari letupan kecil semangat saya yang sedang membuncah-buncah akibat percikan radiasi man jadda wajada tersebut.
PS: terimakasih sahabatku! (maaf juga krn terlalu banyak menggandeng namamu dengan kata ‘absurd’)
laph yu full lah pokoknya. Jangan lupa tempelan kulkas dari Bangkok












